04ajinurokhim03

ajinurokhim

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Winong Banjarnegara

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara berkembang seperti Indonesia, dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi disertai kebutuhan yang semakin meningkat menyebabkan pola hidup komsumtif pada masyarakat. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah sampah setiap harinya dengan tidak disertai dengan pengelolaan sampah yang cepat dan sistematis.
Sampah merupakan sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya yang dapat menimbulkan dampak-dampak yang berupa sumber penyakit, pemandangan yang mengurangi estetika, pencemaran lingkungan dan adanya bau tidak sedap dari hasil pembusukan dari buangan sampah tersebut. Maka dari itu perlu adanya pengelolaan sampah agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan dan dapat mengganggu kesehatan, sehingga persoalan sampah perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.
Pemerintah menyediakan fasilitas dalam mengatasi masalah sampah, yaitu dengan pembangunan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA). TPA di kabupaten Banjarnegara terletak di desa winong,yang menggunakan system Controlled Landfill. Penetapan lokasi TPA harus tepat dan penataan kawasan di sekitarnya juga dilakukan secara seksama agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari, terutama masalah sosial dan lingkungan.
Keberadaan sampah juga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat karena sampah merupakan sarana dan sumber penularan penyakit. Sampah merupakan tempat yang ideal untuk sarang dan tempat berkembangbiaknya berbagai vektor penularan penyakit, lalat merupakan salah satu vektor penular penyakit khususnya penyakit saluran pencernaan dalam hal ini adalah diare karena lalat mempunyai kebiasaan hidup ditempat kotor dan tertarik bau busuk seperti sampah basah. Maka dari itu perlu adanya pengukuran kepadatan lalat untuk mengetahui perencanaan dan pengendalian lalat di TPA.
B. Tujuan
1. Mengetahui sejarah TPA winong.
2. Untuk mengetahui proses pengolahan sampah di TPA Winong.
3. Untuk mengetahui kepadatan lalat di TPA winong.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kehadiran tempat pembuangan akhir (TPA) seringkali menimbulkan dilema. TPA dibutuhkan, tetapi sekaligus tidak diinginkan kehadirannya di ruang pandang. Kegiatan TPA juga menimbulkan dampak gangguan antara lain: kebisingan, ceceran sampah, debu, bau, dan binatang-binatang vektor. Belum terhitung ancaman bahaya yang tidak kasat mata, seperti kemungkinan ledakan gas akibat proses pengolahan yang tidak memadai. Lebih lanjut, sampah juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang ada di sekitarnya akibat adanya tumpukan sampah yang mampu menarik binatang-binatang vektor. Masalah bisa memuncak apabila binatang vektor tersebut menimbulkan masalah kesehatan dan menganggu masyarakat sekitar. Sampah merupakan tempat yang ideal untuk sarang dan tempat berkembangbiaknya berbagai vektor penularan penyakit.(Anonym, 2010)
Lokasi TPA merupakan tempat pembuangan akhir sampah yang akan menerima segala resiko akibat pola pembuangan sampah terutama yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya pencemaram lindi (leachate) ke badan air maupun air tanah, pencemaran udara oleh gas dan efek rumah kaca serta berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat (Judith, 1996).
TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik (Anonim,2011).
Menurut definisi (WHO) sampah adalah sesutu yang tidak di gunakan, tidak di pakai, tidak di senangi, atau sesuatu yang di buang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra,2006).
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya. (Wibowo, A & Djajawinata, D. 2001)
Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah selain pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan, termasuk didalamnya adalah penyediaan peralatan yang digunakan, tehnik pelaksanaan pengelolaan dan administarasi. Hal ini bertujuan untuk keberhasilan pelaksanaan pengelolaan sampah (Raharja,1988 dalam Anonim, 20011).
Lalat merupakan salah satu vektor penular penyakit khususnya penyakit saluran pencernaan dalam hal ini adalah diare karena lalat mempunyai kebiasaan hidup di tempat kotor dan tertarik bau busuk seperti sampah basah. Open dumping merupakan jenis pembuangan sampah akhir yang tidak saniter karena pada sampah basah dapat menjadi media yang baik untuk lalat dan tikus dan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap serta tidak menimbulkan pemandangan yang tidak sedap. Jenis pembuangan sampah akhir dengan open dumping dapat menjadi media penularan penyakit sehingga tidak dianjurkan untuk digunakan. Oleh karena itu penanganan sampah yang tidak baik atau tidak memenuhi syarat kesehatan seperti open dumping akan meningkatkan populasi lalat sehingga kemungkinan penyakit diare akan meningkat. Populasi untuk mengukur kepadatan lalat adalah semua lalat yang berada dalam area penelitian. Sebagai populasi sasaran lalat adalah lalat yang hinggap pada flygrill dalam 10 kali pengukuran secara rata -rata dari 5 pengukuran tertinggi. Pengukuran dilakukan pada halaman depan dan belakang yang berdekatan dengan tempat sampah rumah tangga atau dapur dari semua populasi sasaran yang ditetapkan. (Rudianto,H dan Azizah, R, 2005)
Keberadaan lalat sebagai pembawa danpenyebar berbagai penyakit pada manusia, melalui penularan secara mekanis ataupun menyebabkan myasis selain dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologi, juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat yang mendukung penyediaan tempat perkembangbiakannya. (Sembiring, V, 2006)

BAB III
ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA
A. Alat dan bahan
1. Fly grill
2. Tally counter
3. Stopwatch
4. Alat tulis

B. Cara kerja
1. Menentukan tempat yang akan di hitung kepadatan lalatnya
2. Meletakkan Fly grill pada jarak 10m dari TPA
3. Menghitung kepadatan lalat pada waktu 30 detik pertama, menghitung jumlah lalat yang hinggap, lakukan hal yang sama hingga 10 kali pada lokasi yang sama.
4. Membuat rata-rata dari 5 perhitungan tertinggi sebagai indeks populasi lalat.
5. Angka rata-rata merupakan petunjuk (indeks) populasi lalat pada lokasi tertentu.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh TPA Winong dapat di lihat pada tabel 1. Sedangkan hasil pengukuran kepadatan lalat pada tabel 2.
Tabel 1 Sarana dan prasarana di TPA Winong
No Sarana dan prasarana Jumlah
1 Tukang sapu 56 orang
2 Tenaga jalur 23 orang
3 Tenaga bongkar muat 27 orang
4 Gerobak sampah 56 buah
5 Container 9 buah
6 TPS 113 buah
7 Transfer depo 4 buah
8 Jumlah angkutan truk 4 buah
9 Amrol 2 buah
10 Pick up 2 buah

Tabel 2 Hasil pengukuran kepadatan lalat di TPA Winong.
No. Jarak Pengukuran dari TPA (m) Kepadatan Tingkat Kepadatan
1. 10 47 Sangat padat
2. 20 2 Rendah
3. 30 30 Sangat padat
4. 40 15 Padat
5. 50 6 Padat
6. 60 4 Rendah

B. Pembahasan
Sejarah tentang TPA Winong yaitu pada awalnya TPA yang lama terletak di Desa Mantrianom Kecamatan Bawang, setelah beroperasi lama, kapasitas TPA menjadi penuh sehingga dipindah ke Desa Winong dengan pertimbangan karena di lokasi tersebut curam, sehingga usia TPA dapat berjalan lama. Luas tanah yang digunakan sebagai TPA adalah 11.809m2. Tanah tersebut dihasilkan dari pembebasan lahan pertanian oleh penduduk kepada pemerintah kabupaten Banjarnegara. Winong dipilih sebagai TPA karena memenuhi persyaratan dimana Winong terletak jauh dari pemukiman warga sehingga tidak mengganggu aktifitas warga di sekitarnya.
TPA Winong dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air lindi dan sampah padat serta bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten untuk pengendalian lalat. Meskipun TPA Winong sudah terdapat fasilitas pengolahan sampah akan tetapi setelah pembangunan pada tahun 2006 hanya bertahan selama 6 bulan karena bencana longsor yang merusak seluruh fasilitas pengolahan sampah. Pembangunan fasilitas pengolahan sampah pernah dibangun kembali akan tetapi karena stuktur tanah yang labil sehingga terjadi kembali. Pembangunan fasiltas pengolahan sampah terakhir dilakukan pada tahun 2009 terjadi longsor yang ke tiga kalinya.
Pengolahan sampah di TPA Winong menggunakan sistem Controlled Landfill. Mekanisme kerja TPA Winong Kecamatan Bawang sebagai berikut :
a. Sampah dalam Kota Kabupaten Banjarnegara yang terkumpul di TPS, Transferdepo, maupun kontainer diangkut ke TPA setiap hari.
b. Sampah yang ada dikumpulkan pada zona aktif setiap hari. Lima hari sekali sampah akan ditimbun dengan tanah.
c. Gas Metan yang dihasilkan oleh tumpukan sampah disalurkan melalui pipa gas pembuangan agar tidak menyebar.
Sampah yang dihasilkan di TPA winong berasal dari Pengambilan sampah dari 12 kelurahan di kabupaten Banjarnegara. Volume sampah yang dihasilkan sejumlah 120 m3/hari. Namun hanya terangkut 50% dikarenakan keterbatasan sarana yang ada mengakibatkan terbengkalainya sampah yang masih berceceran di kebun, sungai, dan ditempat-tempat lain. Sampah-sampah yang bersumber dari masyarakat, kemudian disortir atau dipilih antara sampah basah (garbage) dan sampah kering (rubbish). Setelah itu, sampah basah ditampung di unit pengolah sampah untuk kemudian di cacah sampai membentuk ukuran-ukuran kecil dikumpulkan menjadi satu untuk selanjutnya di lakukan pengomposan. Pemberian biokompos bertujuan untuk menumbuhkan bakteri yang berfungsi untuk mempercepat pembusukkan. Sampah tersebut ditutup menggunakan terpal dan di diamkan selama 1 minggu, kemudian sampah diaduk dan di ayak. Kompos dicampur dengan kotoran hewan dengan perbandingan 50% : 50%. Untuk mengetahui kandungan mineral pada kompos dilakukan uji laboratorium. Hasil pengujian kompos di laboratorium telah memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia).
Pengolahan lindi di Tempat Pembungan Akhir (TPA) winong tidak berfungsi baik karena pipa untuk mengalirkan lindi sudah rusak dan tertimbun sampah kondisi bangunan ini sudah tidak lagi sesuai dengan fungsi awalnya sebagai unit pengolah lindi. Akibatnya air lindi yang di hasilkan, langsung di buang ke badan air tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Penanganan gas yang di hasilkan dari tumpukan sampah di TPA Winong di alirkan melalui pipa galvanized berukuran ± 3 meter di atas permukaan tanah. Gas yang di hasilkan dari tumpukan sampah terutama gas methan, belum di manfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Sampai saat ini di TPA Winong masih terdapat pemulung yang mengumpulkan kembali sampah yang masih dapat di daur ulang. Pemulung yang masih aktif mengumpulkan sampah di TPA berjumlah 70 orang. Para pemulung memulung sampah dari pagi sampai sore hari. Pemulung mempunyai faktor risiko yang sangat besar untuk tertular penyakit melalui vektor mekanik, reservoar, sampah infeksius, maupun media lumpur yang terkontaminasi bakteri patogen. Untuk meminimalisir faktor risiko tersebut maka pengelola TPA memberikan APD kepada para pemulung. Akan tetapi meskipun sudah banyak diingatkan oleh petugas TPA, para pemulung masih kurang menyadari akan pentingnya penggunaan APD. Untuk mengetahui risiko pemulung terkena penyakit akibat dari pekerjaannya sehari-hari pengelola TPA melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kepada pemulung dan petugas pengangkut sampah lainnnya.
Kekurangan dari TPA Winong adalah masih adanya sampah berbahaya yang masuk ke TPA, misalnya jarum suntik dari Rumah Sakit Islam yang langsung dibuang ke TPA winong sehingga di khawatirkan dapat menjadi media penularan penyakit. Selain itu, lokasi TPA mempunyai struktur tanah yang labil sehingga sering terjadi longsor yang mengakibatkan rusaknya sarana pengolahan sampah di TPA tersebut. Kelebihannya yaitu sudah memenuhi persyaratan yaitu jauh dari pemukiman warga sehingga bau dan vektor yang ada di TPA Winong tidak mengganggu aktifitas penduduk di sekitar TPA.
Lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang termasuk ordo diphtera, mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Lalat juga merupakan species yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat, yaitu sebagai vektor penularan penyakit saluran pencernaan seperti: kolera, typhus, disentri, dan lain lain Pada saat ini dijumpai ± 60.000 – 100.000 spesies lalat, tetapi tidak semua species perlu diawasi karena beberapa diantaranya tidak berbahaya terhadap kesehatan masyarakat (Santi, 2001).
Hasil praktikum yang telah dilaksanakan tentang kepadatan lalat yang ditunjukan pada tabel 2. Hasil menunjukan adanya perbedaan tingkat kepadatan lalat dengan jarak TPA. Kepadatan lalat yang paling tinggi adalah pada pengukuran dengan jarak 10 m yang dilakukan oleh kelompok kami dimana jumlah kepadatan lalatnya adalah 47. Berdasarkan hasil tersebut maka dilokasi TPA perlu diadakan penanggulangan terhadap tempat-tempat perkembangbiakan lalat dan tindakan pengendalian lalat.
Pengukuran kepadatan lalat dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 14 Mei 2011 dimana satu hari sebelum pengukuran kepadatan lalat telah dilakukan penyemprotan oleh petugas Dinas Kesehatan, akan tetapi pada hari Sabtu kepadatan lalat sudah sangat tinggi.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. TPA Winong sebelumnya terletak di Desa Mantrianom Kecamatan Bawang, setelah beroperasi lama, kapasitas TPA menjadi penuh sehingga dipindah ke Desa Winong dengan memenuhi persyaratan dimana Winong terletak jauh dari pemukiman warga sehingga tidak mengganggu aktifitas warga di sekitarnya.
2. Pengolahan sampah di TPA Winong meliputi pengolahan sampah basah, pengolahan air lindi dan pengolahan gas methan. Akan tetapi pengoperasiannya tidak maksimal karena sarana pengolahan terkena bencana longsor.
3. Kepadatan lalat di TPA Winong sanagt tinggi karena pada jarak terdekat yaitu 10 m dari lokasi jumlah kepadatan lalatnya adalah 47.

B. Saran
1. Untuk pengelola TPA Winong sudah melakukan hal yang baik, karena sudah mencari lokasi pembuangan sampah yang jauh dari pemukiman warga sehingga tidak mengganggu aktifitas warga di sekitarnya.
2. Untuk pemerintah kabupaten Banjarnegara perlu adanya pengkajian ulang mengenai keberadaan TPA di Winong karena struktur tanah yang labil menyebabkan fasilitas pengolahan sampah yang telah dibangun berkali-kali tidak bertahan lama sehingga meningkatkan anggaran cukup tinggi untuk pengelolaan sampah. Karena tidak adanya unit pengolahan sampah pada akhirnya sampah yang dihasilkan akan mencemari lingkungan di sekitarnya.
3. Untuk penyemprotan lalat seharusnya memakai insektisida yang mempunyai efek residu yang dapat bertahan lama, sehingga upaya pengendalian lalat dapat berjalan secara efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Lalat. http://id.wikipedia.org/wiki/Lalat. Di akses tanggal 20 Mei 2011.
Anonim. 2011. Pengertian sampah. http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah. Di akses tanggal 20 Mei 2011.
Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC
Nurmaini. 2001. Identifikasi, Vektor dan Binatang Pengganggu Serta Pengendalian Anopheles Aconitus Secara Sederhana. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Rudianto, H dan R. Azizah. 2005. Studi Tentang Perbedaan Jarak Perumahan Ke
TPA Sampah Open Dumping Dengan Indikator Tingkat Kepadatan Lalat dan Kejadian Diare (Studi Di Desa Kenep Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan). Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.1, No.2, Januari 2005.
Santi, D.N. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. 2001 digitized by USU digital library.
Sembiring, V. 2006. Diakses 18 juni 2010. Hubungan Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lalat Terhadap Kepadatan Lalat Di Rw. 04 Kelurahan Kedungpane Sekitar Tpa Sampah Jatibarang Semarang. http://eprints.undip.ac.id/4596/1/2769.pdf
Suhartini, 2008. Teknik Pengelolaan Sampah Di TPA Piyungan Sebagai Sumber Belajar Pengelolaan Limbah Padat. Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA di FMIPA UNY tanggal 30 Mei 2008.

LAPORAN PRAKTIKUM
PENYEHATAN TANAH DAN PENGOLAHAN SAMPAH

PENGUKURAN KEPADATAN LALAT DAN PENGOLAHAN SAMPAH
DI TPA WINONG KECAMATAN BAWANG KABUPATEN BANJARNEGARA

Disusun Oleh :

Ade Saputra (B0903001)
Aditya Candra (B0903002)
Ajeng Rizky (B0903003)
Aji Nurokhim (B0903004)
Aji Pratama (B0903005)
Bagus Priambodo (B0903006)
Bangkit Wahyu (B0903007)
Bangun Setya Aji (B0903008)
Barkah Fitriyanto (B0903009)
Bayu Nanang (B0903010)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK BANJARNEGARA
2011

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 27, 2012 by .

Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: